citayam fashion week
(IG@citayamfashionweeks)

Citayam Fashion Week: Bukan Area ‘Nongkrong’ Biasa

NET-Magazines.net – Citayam Fashion Week merupakan peragaan busana di zebra cross pada daerah Dukuh Atas, Jakarta Pusat yang menjadi ajang bagi para model untuk berlenggak-lenggok menyeberangi jalan seraya mengenakan busana khasnya masing-masing. Bukan model-model ternama yang meramaikan Citayam Fashion Week, melainkan remaja-remaja dari daerah di sekitar Jakarta seperti Depok, Citayam dan Bojonggede.

citayam fashion week
(IG @citayamfashionweeks)

Kendati bertajuk Citayam Fashion Week, namun ajang peragaan busana ini tidak ada kaitannya dengan sebuah desa bernama Citayam yang terletak di kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Fenomena Citayam Fashion Week merupakan dampak dari bererdarnya video-video wawancara yang tersebar di media social.

Pada video tersebut nampak remaja-remaja yang polos sedang asyik nongkrong di Kawasan Dukuh Atas, yang juga kerap mengenakan busana yang nyentrik, lebih dari itu, pada video tersebut jawaban muda-mudi yang diwawancara juga mengundang gelak tawa. Berdasarkan video-video tersebut kemudian viral beberapa nama seperti Jeje, Bonge, Kurma, Roy, Alpin dan Slebew, nama-nama viral tersebut berasal dari daerah-daerah di sekitar Jakarta.

Sosiolog Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta Drajat Tri Kartono menyimpulkan bahwa, fenomena Citayam Fashion Week ini merupakan street fashion yang menjadi wadah bagi para muda-mudi untuk menunjukan identitas mereka dengan menarik perhatian masyarakat hingga keberadaannya diakui. Fenomena ini menunjukan adanya kreativitas serta inisiatif masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan tertentu, dalam hal ini Drajat menambahkan adanya kebutuhan masyarakat untuk pakaian yang bagus dan juga pengakuan, namun tidak melulu bisa dijangkau dengan mudah, karena harga pakaian yang tidak terjangkau.

Tren Citayam Fashion Week juga muncul karena adanya keinginan dari beberapa masyarakat untuk mengikuti salah satu ajang mode seperti fashion show, hanya saja tidak semua orang bisa dengan mudah mengikutinya, “Sehingga kemudian muncullah kreativitas-kreativitas dari yang memiliki kebutuhan, tapi tidak memiliki akses di situ,” kata Drajat. “Kreativitas ini yang kemudian berkembang di jalan. Urban subversif itu berkembang di jalan, kemudian muncullah tampilan seperti Citayam Fashion Week ini,” tambah Drajat.

BACA JUGA  Buat Logo Untuk Bisnismu Pakai Aplikasi Ini, Yuk!
citayam fashion week
(IG@citayamfashionweeks)

Karena berlangsung di daerah Dukuh Atas, sudah tentu area Dukuh Atas menjadi sangat viral karena fenomena Citayam Fashion Week. Tidak hanya menjadi wadah bagi remaja sekitaran Jakarta untuk nongkrong, kini pejabat, artis serta kalangan menengah pun terjun untuk berkonten di sana.

Fenomena ini praktis menimbulkan banyak komentar di laman media social, lebih dari itu, muncul pandangan bahwa Citayam Fashion Week sangat berpotensi untuk diambil alih oleh Kalangan Atas yang lebih memiliki power dan juga tujuan-tujuan tertentu, seperti yang dikatakan sosiolog Universitas Indonesia, Hari Nugroho, “Arena ini potensial hanya akan diambil alih oleh mereka yang punya power and resources lebih besar yaitu kalau bukan anak muda kelas menengah Jakarta, atau ya mereka yang mau pakai untuk keperluan panggung politik,”. Hari menambahkan bahwa, kondisi tersebutlah yang pada akhirnya membuat remaja-remaja tersebut tersingkir atau setidaknya hanya berakhir menjadi penopang atau pelengkap dan tidak lagi menjadi subjek utama.

 

About administrator